Kadang bukan produk atau layanannya yang bermasalah, melainkan cara website menyampaikannya. Pengunjung pergi sebelum sempat mengenal bisnismu lebih jauh, dan kamu tidak pernah tahu kenapa karena mereka tidak meninggalkan pesan apa pun.
Artikel ini membahas lima kesalahan UI/UX yang paling sering membuat pengunjung cepat pergi: tanda-tandanya, kenapa itu merugikan, dan perbaikan yang bisa kamu kerjakan tanpa mendesain ulang seluruh website.
Ringkasan: lima kesalahan dan perbaikan tercepatnya
| Kesalahan | Tanda yang mudah dikenali | Perbaikan tercepat |
|---|---|---|
| 1. Navigasi membingungkan | Orang butuh banyak klik untuk menemukan harga atau kontak | Rapikan menu menjadi beberapa pilihan yang jelas |
| 2. Terlalu banyak elemen | Pop-up, banner, dan tombol saling berebut perhatian | Pilih satu tujuan utama per halaman |
| 3. Kontras dan teks sulit dibaca | Teks abu-abu tipis di atas latar terang | Gelapkan teks dan perbesar ukuran huruf |
| 4. Tidak nyaman di ponsel | Tombol kecil, teks terpotong, layout bergeser | Uji di ponsel sungguhan dan sesuaikan ukuran sentuh |
| 5. Ajakan bertindak tidak jelas | Pengunjung membaca sampai habis lalu tidak melakukan apa pun | Satu tombol utama dengan kalimat yang spesifik |
1. Navigasi yang Membingungkan
Kalau pengunjung kesulitan menemukan menu atau informasi penting dalam beberapa detik pertama, mereka cenderung langsung meninggalkan halaman. Masalahnya sering bukan menu yang kurang, tetapi menu yang terlalu kreatif: nama bagian yang hanya dipahami tim internal, atau informasi penting yang terkubur tiga tingkat di dalam.
- Pakai nama menu yang sudah dikenal orang: Layanan, Portofolio, Harga, Kontak.
- Batasi pilihan utama di menu agar mata tidak kewalahan.
- Pastikan harga dan cara menghubungi bisa dicapai dari halaman mana pun dalam satu atau dua klik.
Untuk menyusun struktur sebelum mendesain, lihat cara membuat wireframe untuk desain website.
2. Terlalu Banyak Elemen dalam Satu Halaman
Pop-up bertumpuk, banner berkedip, dan terlalu banyak call-to-action sekaligus justru membuat pengunjung bingung harus fokus ke mana. Kalau semuanya ditonjolkan, tidak ada yang menonjol.
- Tentukan satu tujuan per halaman, lalu susun elemen yang mendukungnya saja.
- Tunda pop-up sampai pengunjung benar-benar membaca, bukan di detik pertama.
- Beri ruang kosong. Ruang kosong bukan pemborosan, melainkan cara mengarahkan mata.
3. Kontras Warna dan Teks yang Sulit Dibaca
Teks abu-abu tipis di atas latar terang, atau kombinasi warna yang minim kontras, membuat pengunjung harus berusaha ekstra hanya untuk membaca isinya. Banyak yang tidak mau berusaha; mereka pergi.
Standar WCAG 2.2 level AA meminta rasio kontras minimal 4,5:1 untuk teks biasa dan 3:1 untuk teks besar. Penjelasan resminya ada di dokumen W3C tentang kontras minimum. Selain kontras, perhatikan juga ukuran huruf: teks isi yang terlalu kecil melelahkan, terutama di layar ponsel.
4. Tidak Responsif di Perangkat Mobile
Tombol yang terlalu kecil untuk disentuh, teks yang terpotong, atau layout yang berantakan di HP adalah alasan umum pengunjung mobile langsung menutup tab. Banyak pemilik bisnis hanya memeriksa website di laptop, padahal banyak pengunjung datang dari ponsel.
- Buka halamanmu di ponsel dengan data seluler, bukan hanya di Wi-Fi kantor.
- Pastikan tombol dan tautan cukup besar dan cukup berjarak untuk ditekan dengan jempol.
- Kecepatan ikut menentukan. Google merangkum kecepatan dan kenyamanan halaman dalam Core Web Vitals.
Prinsip dasarnya dibahas di desain responsif: prinsip dasar untuk website modern.
5. Call-to-Action yang Tidak Jelas
Kalau pengunjung tidak tahu harus klik apa atau ke mana selanjutnya, mereka cenderung tidak melakukan apa-apa sama sekali. Tombol bertuliskan "Klik di sini" atau "Submit" tidak memberi tahu apa yang akan terjadi.
- Tulis tombol dengan hasil yang jelas, misalnya "Minta penawaran" atau "Hubungi kami lewat WhatsApp".
- Beri satu tombol utama yang mencolok, dan jadikan tombol lain tampil lebih tenang.
- Letakkan ajakan di titik yang masuk akal: setelah pengunjung paham apa yang kamu tawarkan, bukan sebelumnya.
Contoh penyusunan ajakan untuk satu halaman fokus ada di cara membuat landing page yang konversinya tinggi untuk campaign iklan.
Tes cepat untuk menemukan kesalahan di websitemu
| Cara menguji | Kesalahan yang terungkap |
|---|---|
| Minta teman yang belum kenal bisnismu mencari harga atau kontak, sambil kamu mengamati tanpa membantu | Navigasi dan ajakan bertindak yang tidak jelas |
| Tunjukkan halaman selama lima detik, lalu tanya apa yang bisa dilakukan di sana | Terlalu banyak elemen, tujuan halaman kabur |
| Buka halaman di ponsel dengan data seluler | Tampilan mobile, ukuran sentuh, dan kecepatan |
| Baca halamanmu dari jarak lengan, di bawah cahaya terang | Kontras dan ukuran huruf |
Panduan pengujian yang lebih lengkap ada di cara melakukan usability testing untuk website atau aplikasi.
Pertanyaan yang sering muncul
Mana yang sebaiknya diperbaiki lebih dulu?
Mulailah dari yang paling dekat dengan tujuan bisnis: ajakan bertindak dan navigasi. Setelah itu kontras dan tampilan di ponsel, karena keduanya memengaruhi hampir semua pengunjung.
Apakah saya harus mendesain ulang seluruh website?
Tidak selalu. Banyak masalah di atas bisa diperbaiki per halaman. Kalau kesalahan menumpuk di banyak halaman sekaligus, barulah pembaruan besar masuk akal, seperti dibahas di kapan perlu redesign website bisnis.
Apakah desain yang cantik tidak penting?
Penting, tetapi cantik saja tidak cukup. Tampilan yang baik adalah yang membantu pengunjung menyelesaikan tugasnya. Alasannya dibahas di kenapa desain website yang bagus bukan cuma soal tampilan cantik.
Langkah berikutnya
Pilih halaman yang paling sering dikunjungi, jalankan tes cepat di atas, lalu catat tiga hal yang paling mengganggu. Perbaiki satu per satu dan uji lagi dengan orang lain. Desain UI/UX yang baik bukan soal terlihat mewah, tetapi soal membuat pengunjung merasa nyaman dan terarah.
Kalau kamu ingin websitemu dirancang dengan pengalaman pengguna yang jelas dan fungsional, lihat layanan website company profile Codwa Studio.
Diskusikan pengalaman pengguna websitemu dengan Codwa Studio
Ditinjau oleh Riki Siahaan. Terakhir diperbarui: 9 Oktober 2026.